Perjuangan Ben Kasyafani di Film “Setannya Cuan”, Satu Adegan Diulang Sampai 10 Kali

1
0
Sumber: ERA.ID

Aktor Ben Kasyafani kembali menjadi sorotan setelah membagikan kisah di balik layar saat terlibat dalam film horor-komedi berjudul Setannya Cuan. Bukan hanya karena perannya yang unik, tetapi juga karena tantangan besar yang ia hadapi selama proses produksi. Ben secara terbuka menceritakan bahwa pengalaman syuting film ini jauh lebih berat dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Dalam pengakuannya, Ben mengungkapkan bahwa ada satu adegan tertentu yang harus ia jalani berulang kali bahkan lebih dari sepuluh kali pengambilan gambar. Pengulangan tersebut bukan tanpa alasan. Tim produksi dan sutradara menginginkan hasil visual yang benar-benar maksimal, baik dari sisi emosi, teknis kamera, hingga detail gerakan yang terlihat natural di layar.

Situasi ini tentu menguras energi, terlebih karena adegan tersebut dilakukan dalam kondisi yang cukup menantang. Namun, bagi Ben, proses itu merupakan bagian dari totalitas sebagai seorang aktor profesional. Ia menyadari bahwa setiap pengulangan adalah upaya untuk menghadirkan kualitas terbaik bagi penonton, sekaligus memenuhi visi kreatif sang sutradara.

Pengalaman ini menjadi bukti bahwa di balik adegan yang terlihat sederhana di layar lebar, tersimpan kerja keras dan dedikasi tinggi para pemainnya. Bagi Ben Kasyafani, perjuangan tersebut justru menjadi salah satu momen paling berkesan selama terlibat dalam proyek film Setannya Cuan.

Sumber: Instagram/benkasyafani

Film Setannya Cuan merupakan produksi rumah film Radepa Black yang resmi tayang di bioskop pada 5 Maret 2026. Mengusung genre horor komedi dengan latar Indonesia era 1980-an, film ini memadukan unsur supranatural, humor khas lokal, serta sentuhan satir sosial yang kuat dengan atmosfer pedesaan yang autentik. Alur ceritanya berfokus pada persaingan dua jawara desa yang tidak hanya berebut pengaruh dan kekuasaan di wilayahnya, tetapi juga tergoda untuk meraih kekayaan secara instan melalui praktik-praktik mistik yang unik dan penuh intrik. Selain menawarkan hiburan yang segar, film ini juga memiliki nilai emosional tersendiri karena menjadi salah satu penampilan layar lebar terakhir dari komika Babe Cabita sebelum kepergiannya, sehingga meninggalkan kesan mendalam bagi para penggemar maupun rekan sesama insan perfilman.

Dalam film Setannya Cuan, Ben Kasyafani dipercaya memerankan sosok Umar, seorang pria yang merupakan anak dari seorang ustaz namun justru terseret ke dalam praktik togel dan kepercayaan mistis yang berkembang di lingkungannya. Karakter Umar digambarkan memiliki konflik batin yang kuat, di satu sisi membawa latar belakang religius dari keluarganya, namun di sisi lain tergoda oleh jalan pintas untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Peran ini menuntut Ben untuk menghadirkan emosi yang kompleks, mulai dari kebimbangan, ambisi, hingga tekanan sosial yang ia rasakan sebagai bagian dari masyarakat desa.

Tak hanya soal pendalaman karakter, Ben juga harus beradaptasi dengan penggunaan logat bahasa Sunda serta aksen khas masyarakat pedesaan era 1980-an, yang bukan merupakan dialek sehari-harinya. Ia mengaku bahwa aspek bahasa menjadi tantangan tersendiri karena harus terdengar alami dan tidak dibuat-buat. Bagi Ben, kesulitan terbesar bukan sekadar menghafal dialog, melainkan memastikan intonasi, gestur, dan nuansa berbicara benar-benar sesuai dengan latar waktu dan tempat cerita. Keautentikan inilah yang menurutnya sangat penting agar penonton dapat merasakan atmosfer film secara utuh dan percaya pada karakter yang ia perankan.

Salah satu pengalaman paling menantang bagi Ben Kasyafani saat membintangi Setannya Cuan adalah ketika ia harus menjalani adegan fisik yang cukup ekstrem, yakni menuruni bukit dalam kondisi hujan dengan permukaan tanah yang licin. Adegan tersebut bukan hanya menuntut ketahanan fisik, tetapi juga konsentrasi penuh karena risiko terpeleset cukup besar. Medan yang sulit dipadukan dengan kebutuhan pengambilan gambar yang detail membuat proses syuting tidak bisa dilakukan sekali jalan.

Sumber: Suara.com

Ben mengungkapkan bahwa adegan itu harus diulang berkali-kali, bahkan lebih dari sepuluh kali pengambilan gambar, demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan visi sutradara dan standar visual yang diinginkan. “Itu adegan turun dari atas ke bawah. Itu kita ulang banyak, lumayan banyak ulangnya… licin, terus ada macam-macam”, ujarnya saat menceritakan kembali momen tersebut. Pengulangan dilakukan karena berbagai faktor, mulai dari sudut kamera, kesinambungan gerakan, hingga keamanan saat beraksi di medan yang berbahaya.

Kondisi cuaca yang kurang bersahabat semakin memperumit situasi. Hujan membuat tanah semakin licin dan memperlambat proses produksi. Di sisi lain, tim kamera harus memastikan setiap detail tetap tertangkap dengan baik tanpa mengurangi aspek keselamatan pemain. Kombinasi antara faktor alam, teknis produksi, dan tuntutan akting inilah yang membuat adegan tersebut memakan waktu lebih lama dari perkiraan dan mengharuskan seluruh kru bekerja ekstra keras demi menghasilkan adegan yang kuat dan meyakinkan di layar lebar.

Tak hanya menghadapi tantangan fisik selama proses syuting Setannya Cuan, Ben Kasyafani juga harus bekerja ekstra dalam aspek bahasa dan pendalaman karakter. Ia mengakui bahwa penggunaan dialek Sunda menjadi tantangan tersendiri karena dirinya bukan penutur asli bahasa tersebut. Untuk memastikan dialog terdengar alami, Ben perlu berlatih secara intensif, mulai dari pelafalan kata, tekanan suara, hingga ritme berbicara agar sesuai dengan karakter masyarakat pedesaan Jawa Barat pada era 1980-an yang menjadi latar cerita film ini.

Bagi Ben, menguasai dialek lokal bukan sekadar soal mengucapkan kata-kata dengan benar. Lebih dari itu, ia harus memahami bagaimana pola pikir, gestur, serta kebiasaan hidup masyarakat pada masa tersebut agar karakter yang diperankannya terasa hidup. Ia menyadari bahwa bahasa berkaitan erat dengan identitas dan latar sosial tokoh, sehingga kesalahan kecil dalam intonasi bisa mengurangi keautentikan adegan. Menurutnya, proses penyesuaian karakter secara menyeluruh sangat penting agar keseluruhan film terasa natural dan mampu membawa penonton seolah-olah kembali ke suasana desa di era tersebut.

Sebagai film bergenre horor-komedi, Setannya Cuan tidak hanya mengandalkan unsur kelucuan dan ketegangan semata. Tim kreatif di balik layar merancang cerita dengan memasukkan pesan sosial yang relevan dengan realitas masyarakat. Di balik adegan-adegan jenaka dan situasi supranatural yang mengundang tawa, terselip sindiran halus mengenai ambisi manusia untuk memperoleh kekayaan secara instan serta kecenderungan sebagian orang yang masih tergoda oleh praktik-praktik mistik sebagai jalan pintas menuju kesuksesan.

Pendekatan ini membuat film terasa lebih berlapis. Penonton tidak hanya diajak menikmati hiburan ringan, tetapi juga didorong untuk merenungkan nilai moral yang tersirat di dalamnya. Kombinasi antara humor dan kritik sosial ini menjadi daya tarik tersendiri, karena mampu menghadirkan keseimbangan antara tawa dan refleksi. Dengan demikian, film ini diharapkan bukan sekadar menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menghadirkan ruang bagi penonton untuk berpikir lebih dalam tentang fenomena sosial yang masih relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Film Setannya Cuan resmi menghiasi layar lebar di seluruh Indonesia sejak 5 Maret 2026 dan langsung menarik perhatian penonton. Kehadirannya terbilang cukup dinanti karena menawarkan konsep yang berbeda dari kebanyakan film horor arus utama yang identik dengan adegan jumpscare semata. Alih-alih hanya mengandalkan kejutan menegangkan, film ini menyuguhkan perpaduan horor, komedi, dan sentuhan kritik sosial yang terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.

Sumber: Instagram/benkasyafani

Respons publik pun cenderung positif. Banyak penonton mengapresiasi pendekatan cerita yang segar sekaligus menghibur, terutama karena mampu menghadirkan tawa tanpa menghilangkan unsur pesan moral di dalamnya. Penggemar Ben Kasyafani secara khusus menyoroti totalitas aktingnya serta dedikasi yang ia tunjukkan selama proses produksi. Secara keseluruhan, film ini dinilai berhasil menghadirkan tontonan yang ringan namun tetap bermakna, sekaligus memperkaya warna perfilman Indonesia dengan konsep yang tidak biasa.

Perjalanan Ben Kasyafani dalam membintangi Setannya Cuan menjadi bukti bahwa kualitas sebuah film tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di layar, tetapi juga oleh proses panjang dan penuh tantangan di balik pembuatannya. Mulai dari upaya mendalami dialek daerah agar terdengar autentik, membangun karakter dengan latar sosial yang kuat, menghadapi lokasi syuting yang berat, hingga kesanggupan mengulang adegan berkali-kali demi mendapatkan hasil terbaik, seluruhnya mencerminkan profesionalisme dan komitmen tinggi terhadap seni peran.

Lebih dari sekadar hiburan bergenre horor-komedi, film ini memperlihatkan bagaimana kerja keras, kolaborasi tim, dan perhatian terhadap detail mampu melahirkan karya yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga menyimpan pesan yang relevan. Dedikasi para pemain dan kru menjadi fondasi utama yang membuat film ini terasa hidup dan bermakna, sekaligus mempertegas bahwa industri perfilman Indonesia terus berkembang melalui semangat totalitas dan kualitas produksi yang semakin matang.