Michelle Ziudith, salah satu aktris populer di industri film Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah memutuskan mencoba sesuatu yang benar-benar berbeda dari peran-peran sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia terlibat dalam proyek film horor berjudul Alas Roban. Keputusan ini ternyata bukan perjalanan mudah.
Selama proses syuting, Michelle merasakan tekanan yang tidak hanya menguji kemampuan akting, tetapi juga ketahanan emosional, fisik, dan mentalnya. Pengalaman intens tersebut membuatnya secara jujur mengakui bahwa ia sempat “kapok” bermain di film horor. Meski begitu, Michelle tetap merasa bangga karena berhasil melewati tantangan itu dan melihat hasil akhirnya sebagai pencapaian baru dalam kariernya.
Alas Roban menjadi langkah perdana Michelle Ziudith dalam menjajal dunia film horor. Film ini dirilis serentak di bioskop Indonesia pada 15 Januari 2026, dan digarap oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu. Proyek ini juga melibatkan tiga rumah produksi Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures kombinasi yang membuat ekspektasi penonton terhadap film ini semakin tinggi.

Cerita Alas Roban terinspirasi dari legenda urban tentang jalur angker di kawasan Alas Roban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Daerah tersebut sudah lama dikenal masyarakat karena kisah-kisah misterius, kecelakaan yang kerap terjadi, serta berbagai cerita supranatural yang masih dipercaya hingga sekarang. Dalam film ini, unsur mistis tersebut tidak hanya menjadi hiasan, tetapi dipadukan dengan cerita yang emosional tentang perjuangan seorang ibu yang terpaksa berhadapan dengan dunia gaib demi melindungi anaknya.
Michelle memerankan karakter Sita, sosok ibu yang penuh kasih dan tidak ragu melakukan apa pun untuk menyelamatkan putrinya, Gendis, yang diperankan oleh Fara Shakila. Ketika keduanya terjebak dalam situasi menegangkan di kawasan Alas Roban, Sita harus menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya dan berjuang melawan ancaman yang tak terlihat. Peran ini menuntut Michelle untuk tampil intens secara emosional, sekaligus menunjukkan sisi keberanian seorang ibu di tengah kondisi penuh teror.
Sebelum bergabung di Alas Roban, Michelle Ziudith lebih dikenal melalui deretan peran dramatis dan romantis yang membuat namanya melejit. Tawaran untuk bermain di film horor sebenarnya sudah beberapa kali datang, namun ia selalu merasa belum siap. Baru pada proyek ini, ia akhirnya berkata “ya”. Keputusan tersebut bukan karena sekadar ingin mencoba genre berbeda atau membuktikan diri, melainkan karena ia benar-benar jatuh cinta pada ceritanya.
Menurut Michelle, Alas Roban menawarkan alur yang kuat, emosional, dan tidak hanya mengandalkan kejutan menakutkan semata. Di balik nuansa mistis, film ini menyajikan konflik manusiawi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sana ada rasa kehilangan, ketakutan, dan cinta seorang ibu yang menjadi pusat cerita.
Ia juga menilai bahwa naskah film ini disusun dengan rapi, memiliki arah cerita yang jelas, serta menghadirkan drama keluarga yang hangat. Kombinasi itulah yang membuat Michelle yakin bisa memberikan totalitas terbaik, meskipun genre horor masih terasa asing baginya. Tantangan baru tersebut justru ia lihat sebagai kesempatan untuk berkembang sebagai aktris.

Walaupun akhirnya menerima peran tersebut, Michelle dengan jujur mengakui bahwa ia sebenarnya bukan tipe orang yang tahan terhadap hal-hal berbau mistis. Dunia horor bukanlah zona nyamannya. Setiap kali berada di situasi yang gelap atau berhubungan dengan cerita supranatural, rasa takutnya sering muncul. Hal itu semakin terasa karena Alas Roban tidak menggunakan lokasi buatan, melainkan kawasan asli yang memang sudah lama dikenal masyarakat sebagai tempat angker.
Dalam salah satu wawancara, Michelle menceritakan bagaimana rasa was-was sering muncul selama proses syuting. Bahkan, ia sempat mencoba berdiskusi dengan sutradara untuk meminimalkan adegan yang terlalu “magis” atau bersentuhan langsung dengan elemen mistis di lokasi. Namun, demi menghadirkan suasana yang autentik dan realistis, proses pengambilan gambar tetap dilakukan di lokasi sebenarnya. Di titik itulah Michelle menyadari bahwa ia harus berani dan percaya pada tim produksi.
Suasana lokasi syuting jauh dari kata nyaman, penerangan terbatas, jalanan yang berkelok, serta hawa yang terasa dingin dan menegangkan. Kondisi itu jelas berbeda dengan set film studio yang biasanya lebih terkendali. Karena itulah, para pemain dan kru sering saling menyemangati, berdiskusi, dan memastikan satu sama lain tetap fokus. Kebersamaan itu yang akhirnya membantu mereka tetap profesional meskipun bekerja di tengah atmosfer yang mencekam.
Michelle ternyata tidak sendirian merasakan atmosfer mencekam selama proses syuting. Sejumlah pemain lain juga mengaku merasakan hal serupa. Mereka menilai bahwa suasana di lokasi terasa “berbeda” seolah tidak hanya sekadar set film yang diatur sedemikian rupa. Fara Shakila, pemeran Gendis, bahkan sempat mengalami beberapa kejadian yang dianggap menarik dan di luar dugaan. Ditambah lagi, lokasi yang dipercaya masyarakat memiliki nilai sakral membuat setiap adegan terasa lebih hidup sekaligus menegangkan.
Pengalaman mistis tak berhenti sampai di situ. Beberapa adegan ternyata diambil tepat pada malam 1 Suro waktu yang dalam tradisi Jawa sering dianggap penuh energi spiritual. Situasi tersebut sempat membuat Michelle merasa tidak nyaman, apalagi ketika ia melihat beberapa kru memakai sarung. Awalnya, ia mengira hal itu berkaitan dengan ritual tertentu. Namun, sutradara Hadrah Daeng Ratu kemudian menjelaskan bahwa hal tersebut hanyalah bagian dari kebiasaan dan tradisi, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.

Walaupun rasa takut sesekali muncul, pengalaman-pengalaman ini justru membuat Michelle semakin menyadari betapa besar usaha yang diperlukan untuk menciptakan film horor yang terasa nyata di mata penonton. Ungkapan “kapok” yang diucapkan Michelle sebenarnya bukan berarti ia menyesal terlibat di Alas Roban. Ia menjelaskan, proses syuting film horor ini terasa sangat intens baik secara fisik maupun mental hingga membuatnya berpikir dua kali jika suatu hari mendapat tawaran serupa. Bukan karena tidak menyukai proyeknya, melainkan karena tekanan dan rasa takut yang ia rasakan begitu nyata sepanjang proses produksi.
Menurut Michelle, ia menerima peran ini dengan kesadaran penuh bahwa tantangan yang datang tidak akan mudah. Ia ingin mengetahui sejauh mana batas kemampuannya sebagai aktris, sekaligus menguji keberaniannya menghadapi genre yang selama ini ia hindari. Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa rasa takut terhadap hal-hal mistis tidak serta-merta hilang. Hingga film selesai, ketakutan itu masih ada hanya saja kini ia mampu mengendalikannya.
Di sisi lain, Michelle juga sangat tersentuh dengan karakter Sita yang ia mainkan. Peran sebagai seorang ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya memberikan kedalaman emosional tersendiri. Baginya, inilah elemen yang membuat Alas Roban berbeda dari film horor kebanyakan. Di balik ketegangan, film ini menghadirkan kisah kemanusiaan yang hangat dan menyentuh, sehingga tidak hanya menonjolkan rasa takut, tetapi juga menghadirkan pesan tentang cinta dan pengorbanan.
Debut Michelle Ziudith di dunia film horor melalui Alas Roban menjadi pengalaman yang sarat tantangan, penuh ketegangan, sekaligus memberikan banyak pembelajaran baru. Meski sempat mengaku “kapok” karena prosesnya begitu menguras emosi dan mental, Michelle melihat proyek ini sebagai langkah penting dalam perkembangan kariernya. Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu keluar dari zona nyaman dan menghadapi genre yang selama ini ia hindari.
Alas Roban sendiri tidak hanya menyuguhkan adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga mengajak penonton masuk ke dalam kisah emosional yang menyentuh tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Perpaduan antara horor dan drama humanis inilah yang membuat film ini terasa berbeda, sekaligus layak menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling ditunggu pada awal tahun 2026.





![Cerita di Balik Syuting Petualangan Sherina 2! [NGOBROL BARENG] Cerita di Balik Syuting Petualangan Sherina 2! [NGOBROL BARENG]](https://iswaranetwork.com/wp-content/uploads/2023/10/Cerita-di-Balik-Syuting-Petualangan-Sherina-2-NGOBROL-BARENG-180x135.webp)










