Dian Sastro Kembali ke Layar Lebar Lewat Esok Tanpa Ibu, Proyek Film Kolaborasi Tiga Negara

0
0
Sumber: RRI

Industri perfilman Indonesia kembali menunjukkan kapasitasnya di panggung internasional melalui film Esok Tanpa Ibu, sebuah karya sinematik yang menandai kembalinya Dian Sastrowardoyo ke layar lebar sekaligus mempertegas perannya sebagai figur penting dalam perkembangan film Asia. Film ini bukan sekadar comeback akting bagi Dian Sastro, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan kolaborasi kreatif sineas dari tiga negara yang menyatukan visi, teknologi, dan narasi emosional dalam satu proyek ambisius.

Menarik perhatian sejak pertama kali diumumkan, Esok Tanpa Ibu hadir dengan pendekatan cerita yang berbeda dari film drama keluarga pada umumnya. Karya ini memadukan kedalaman emosi relasi ibu dan anak dengan balutan fiksi ilmiah modern, menjadikannya relevan dengan isu-isu kontemporer. Fokus cerita pada interaksi manusia dengan teknologi khususnya kecerdasan buatan (AI) memberikan perspektif baru tentang cara manusia menghadapi kehilangan, memori, dan ikatan emosional di era digital.

Kombinasi tema yang kuat, pendekatan visual futuristik, serta keterlibatan talenta lintas negara menjadikan Esok Tanpa Ibu sebagai salah satu film Indonesia paling dinantikan. Proyek ini sekaligus menegaskan bahwa film nasional kini mampu berbicara dalam bahasa universal, tanpa kehilangan identitas lokal, serta siap bersaing di kancah perfilman internasional.

Esok Tanpa Ibu yang secara internasional dikenal dengan judul Mothernet merupakan film drama fiksi ilmiah yang mengisahkan perjalanan emosional Rama, seorang remaja yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika ibunya mengalami koma akibat kecelakaan tragis. Terjebak dalam duka dan kesepian, Rama menemukan secercah harapan melalui i-BU, sebuah program kecerdasan buatan yang mampu mereplikasi sosok sang ibu, mulai dari wajah, suara, hingga kepribadiannya. Melalui premis ini, film tidak hanya menyoroti rasa kehilangan, tetapi juga mengeksplorasi peran teknologi sebagai penopang emosional sekaligus pemantik dilema etis tentang batas kedekatan manusia dengan mesin. Dengan pendekatan yang reflektif, Esok Tanpa Ibu mengajak penonton merenungkan makna hubungan manusia terutama ikatan antara anak dan orang tua di tengah laju perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi kehidupan emosional manusia.

Sumber: Katadata

Dalam Esok Tanpa Ibu, Dian Sastrowardoyo menghadapi tantangan akting yang tidak biasa dengan memerankan dua karakter sekaligus. Ia tampil sebagai Laras, sosok ibu yang terbaring koma, sekaligus sebagai i-BU, entitas kecerdasan buatan yang menjadi tumpuan harapan Rama untuk kembali merasakan kehadiran sang ibu. Peran ganda ini menuntut pendekatan akting yang berbeda, terutama saat menghidupkan karakter i-BU yang harus terasa non-manusiawi namun tetap memiliki kedalaman emosional. Dian pun mengaku mempelajari karakteristik dan cara kerja AI agar mampu membedakan gestur, emosi, serta respons antara manusia dan mesin. Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru dalam perjalanan kariernya, menjadikan Esok Tanpa Ibu sebagai proyek pertama di mana ia sepenuhnya memerankan karakter berbasis kecerdasan buatan tanpa kehilangan sentuhan emosional yang kuat sebagai seorang ibu.

Salah satu daya tarik utama Esok Tanpa Ibu terletak pada skala kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, Singapura, dan Malaysia, menjadikannya proyek film Asia Tenggara dengan visi global. Film ini diproduksi oleh BASE Entertainment dan Beacon Film rumah produksi milik Dian Sastrowardoyo dengan dukungan Refinery Media dari Singapura, serta sokongan institusional dari Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media Development Authority (IMDA).

Tongkat estafet penyutradaraan dipercayakan kepada Ho Wi-ding, sineas kelahiran Malaysia yang berbasis di Taiwan dan telah dikenal luas di ranah sinema internasional, sehingga mampu menghadirkan keseimbangan antara kekuatan drama keluarga dan estetika fiksi ilmiah yang subtil. Kolaborasi lintas negara ini tidak hanya terjadi pada tahap produksi, tetapi juga sejak pengembangan cerita dan proses kreatif awal, yang menurut produser Shanty Harmayn menjadi fondasi penting dalam membentuk kedalaman narasi serta kualitas sinematik Esok Tanpa Ibu secara menyeluruh.

Di balik kekuatan cerita Esok Tanpa Ibu terdapat kolaborasi solid antara sutradara dan tim penulis yang berhasil menyatukan visi naratif dengan isu teknologi modern. Skenario film ini digarap oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief, tiga penulis yang telah lama dikenal melalui karya-karya bermutu di industri film Indonesia. Mereka merancang kisah yang bersifat universal sehingga dapat diterima oleh penonton lintas budaya, namun tetap berakar pada emosi dan nilai lokal yang kuat. Di bawah arahan sutradara Ho Wi-ding, narasi tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa visual yang memadukan estetika futuristik dengan kedalaman emosi manusia, menjadikan Esok Tanpa Ibu lebih dari sekadar film fiksi ilmiah melainkan karya reflektif yang membuka ruang diskusi tentang keluarga, teknologi, dan dinamika hubungan manusia di era modern.

Esok Tanpa Ibu menghadirkan pesan yang melampaui sekadar drama emosional tentang hubungan ibu dan anak, dengan menyoroti kegelisahan banyak keluarga di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Film ini merefleksikan bagaimana kehadiran teknologi baru dapat memengaruhi kedekatan antaranggota keluarga, sekaligus menegaskan bahwa meski teknologi mampu menjadi alat bantu untuk merawat hubungan dan menyembuhkan luka batin, ia tidak pernah bisa sepenuhnya menggantikan kehadiran manusia.

Sumber: Tempo.co

Dian Sastrowardoyo pun melihat film ini sebagai ruang kontemplasi bagi penonton untuk memahami dinamika keluarga modern, terutama peran orang tua dalam beradaptasi dengan perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Pesan tersebut semakin kuat melalui perjalanan Rama yang terjebak antara keinginan mempertahankan kenangan akan sang ibu dan kenyataan pahit tentang kehilangan, menggambarkan teknologi sebagai jembatan emosional di masa duka sekaligus sumber dilema moral yang mendalam.

Sebelum menyapa penonton di bioskop Indonesia, Esok Tanpa Ibu lebih dahulu mencuri perhatian di tingkat internasional melalui penayangan perdananya di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, tepatnya dalam program A Window on Asian Cinema. Kehadiran film ini di salah satu festival paling prestisius di Asia tersebut menjadi penanda kuat bahwa Esok Tanpa Ibu dipandang sebagai karya yang memiliki nilai artistik dan relevansi global. Partisipasinya di BIFF tidak hanya mempertegas daya saing film Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menegaskan keberhasilan kolaborasi lintas negara yang melibatkan berbagai talenta Asia. Bagi Beacon Film, rumah produksi milik Dian Sastrowardoyo, pencapaian ini sekaligus menjadi tonggak penting yang menunjukkan kemampuannya menghadirkan karya sinema berstandar internasional dan berpotensi menjangkau audiens global.

Esok Tanpa Ibu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Januari 2026, dan sejak pengumumannya telah masuk dalam daftar film paling dinantikan di awal tahun. Antusiasme publik muncul berkat perpaduan cerita yang sarat emosi dengan pendekatan fiksi ilmiah yang relatif jarang dieksplorasi dalam perfilman nasional. Selain menampilkan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama, film ini juga didukung jajaran aktor seperti Ringgo Agus Rahman, Aisha Nurra Datau, dan Bima Sena, yang masing-masing memerankan karakter penting dalam perjalanan batin Rama saat menghadapi kehilangan, kecanggihan teknologi, serta dinamika hubungan keluarga yang kompleks.

Esok Tanpa Ibu hadir bukan sekadar sebagai film drama keluarga berbalut fiksi ilmiah, melainkan sebagai cerminan kematangan industri perfilman Indonesia dalam merespons isu-isu zaman. Film ini menunjukkan bagaimana kolaborasi internasional dapat melahirkan karya yang emosional, relevan secara sosial, dan memiliki daya saing global. Melalui proyek ini, Dian Sastrowardoyo tidak hanya menegaskan konsistensinya sebagai aktris papan atas, tetapi juga memperkuat perannya sebagai produser visioner yang berkontribusi membawa sinema Indonesia melangkah lebih jauh di panggung internasional, dengan karya yang mampu menjembatani emosi manusia dan perkembangan teknologi modern.