Fenomena zebra cross dengan desain unik bergaya “Pac-Man” di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, belakangan ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Tidak seperti penyeberangan pada umumnya, tampilan visual yang terinspirasi dari karakter gim klasik tersebut menghadirkan nuansa berbeda di ruang publik. Inisiatif ini lahir dari kreativitas warga yang ingin menghadirkan solusi sekaligus menarik perhatian terhadap pentingnya fasilitas penyeberangan yang aman. Tak heran, kehadirannya langsung viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi dari publik.
Sebagian masyarakat menilai langkah tersebut sebagai bentuk kepedulian sekaligus kreativitas yang patut diapresiasi, karena mampu menghidupkan ruang kota dengan sentuhan artistik. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mempertanyakan aspek keselamatan dan kesesuaiannya dengan standar lalu lintas yang berlaku. Perdebatan ini pun berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai batas antara kreativitas di ruang publik dan kepatuhan terhadap regulasi.
Menanggapi hal tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta turut memberikan pandangannya. Mereka mengakui bahwa inisiatif warga mencerminkan partisipasi aktif dalam memperhatikan lingkungan sekitar, khususnya dalam isu keselamatan pejalan kaki. Meski demikian, DPRD menekankan bahwa setiap bentuk inovasi di fasilitas umum tetap harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Hal ini penting agar fungsi utama zebra cross sebagai penunjang keselamatan tidak terganggu oleh elemen desain yang bersifat dekoratif.

Zebra cross bergaya “Pac-Man” yang viral di media sosial berawal dari aksi kreatif warga di Jalan Soepomo, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang menggambar ulang fasilitas penyeberangan dengan desain terinspirasi dari karakter gim klasik tersebut. Tidak sekadar menghadirkan garis putih seperti zebra cross pada umumnya, warga menambahkan elemen visual berupa karakter Pac-Man dan ikon hantu yang ikonik, sehingga menciptakan tampilan yang lebih mencolok, unik, dan artistik di ruang publik. Di balik kreativitas tersebut, tersimpan pesan kritik yang cukup kuat, aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap hilangnya zebra cross di lokasi tersebut yang dinilai membahayakan keselamatan pejalan kaki, terutama di jalan dengan lalu lintas yang cukup padat.
Warga berharap dengan tampilan yang tidak biasa ini, perhatian pemerintah dapat segera tertuju pada kebutuhan mendesak akan fasilitas penyeberangan yang layak. Upaya ini pun terbukti efektif, karena dalam waktu singkat gambar tersebut menjadi perbincangan luas dan viral di berbagai platform media sosial. Banyak warganet memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut, menilai bahwa langkah kreatif ini bukan hanya sekadar seni jalanan, tetapi juga wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap keselamatan dan kualitas ruang publik.
Menanggapi fenomena zebra cross bergaya “Pac-Man” yang ramai diperbincangkan, DPRD DKI Jakarta menyampaikan pandangan yang cukup tegas namun tetap berimbang. Mereka mengapresiasi semangat dan kepedulian warga dalam menghadirkan solusi kreatif terhadap persoalan fasilitas publik, khususnya terkait keselamatan penyeberangan. Namun di sisi lain, DPRD mengingatkan bahwa setiap bentuk perubahan atau intervensi terhadap infrastruktur umum tidak bisa dilakukan secara sembarangan dan tetap harus mengacu pada regulasi yang berlaku.

Hal ini penting untuk menjaga fungsi utama fasilitas tersebut agar tidak bergeser dari tujuan awalnya. DPRD menekankan bahwa zebra cross bukan sekadar elemen visual atau estetika kota, melainkan bagian krusial dari sistem keselamatan lalu lintas yang dirancang dengan standar tertentu agar mudah dikenali oleh semua pengguna jalan. Jika desainnya diubah terlalu jauh atau dibuat terlalu artistik, dikhawatirkan justru menimbulkan kebingungan, baik bagi pengendara maupun pejalan kaki, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Oleh karena itu, kreativitas di ruang publik tetap diperbolehkan, namun harus ditempatkan secara proporsional dan tidak mengorbankan aspek keselamatan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut memberikan respons atas fenomena zebra cross bergaya “Pac-Man” di Tebet dengan pendekatan yang sejalan, yakni mengapresiasi sekaligus menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap aturan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa kreativitas warga merupakan bentuk kepedulian yang patut dihargai, terutama dalam upaya meningkatkan perhatian terhadap keselamatan pejalan kaki di ruang publik. Meski demikian, ia menekankan bahwa zebra cross sebagai bagian dari infrastruktur lalu lintas tidak bisa didesain secara bebas, karena harus mengacu pada standar yang telah ditetapkan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, aturan tersebut disusun dengan pertimbangan matang demi menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna jalan, sehingga tidak boleh diabaikan meskipun dengan alasan estetika atau kreativitas. Oleh karena itu, pemerintah berencana melakukan penyesuaian terhadap zebra cross tersebut agar tetap memenuhi ketentuan yang berlaku tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Di sisi lain, Pemprov DKI juga sempat menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas polemik yang terjadi, termasuk terkait penghapusan zebra cross yang sebelumnya sempat menjadi sorotan publik, sebagai bentuk tanggung jawab dan evaluasi terhadap pelayanan fasilitas umum.
Ada sejumlah alasan mendasar mengapa zebra cross tidak boleh dibuat secara sembarangan, meskipun dengan tujuan kreatif atau estetika. Yang pertama adalah faktor keselamatan, di mana zebra cross sejak awal dirancang dengan pola garis putih yang kontras agar mudah dikenali oleh pengendara dari jarak tertentu. Ketika desainnya diubah secara signifikan atau ditambahkan elemen visual yang tidak lazim, ada risiko pengguna jalan terutama pengemudi, tidak langsung menyadari bahwa itu adalah area penyeberangan. Bahkan, penggunaan efek visual tertentu seperti ilusi tiga dimensi dapat menimbulkan kebingungan, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan dalam persepsi visual.

Selain itu, zebra cross juga harus mengikuti standar nasional dan internasional yang telah ditetapkan agar sistem lalu lintas tetap konsisten di berbagai wilayah. Standarisasi ini penting untuk memastikan bahwa siapa pun, termasuk wisatawan atau pendatang, dapat dengan mudah memahami fungsi dan keberadaan penyeberangan tanpa perlu beradaptasi dengan desain yang berbeda-beda. Terakhir, zebra cross memiliki fungsi utama sebagai penunjuk titik aman untuk menyeberang jalan, sehingga aspek fungsional harus menjadi prioritas utama. Jika tampilannya terlalu dekoratif atau lebih menonjolkan unsur artistik, maka dikhawatirkan justru mengaburkan fungsi tersebut dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan bagi pejalan kaki.
Di balik kontroversi yang muncul, aksi kreatif warga Tebet ini sebenarnya berangkat dari kondisi nyata di lapangan yang cukup memprihatinkan. Sebelumnya, zebra cross di kawasan tersebut sempat hilang akibat proyek perbaikan jalan dan trotoar, sehingga membuat fasilitas penyeberangan tidak lagi tersedia bagi pejalan kaki. Situasi ini menimbulkan kesulitan, terutama karena Jalan Soepomo dikenal sebagai ruas yang ramai dengan lalu lintas padat. Warga pun merasa khawatir akan keselamatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan pengguna jalan lainnya yang membutuhkan akses penyeberangan yang aman.
Dalam kondisi tersebut, muncul inisiatif dari masyarakat untuk bertindak langsung dengan menggambar zebra cross versi mereka sendiri, lengkap dengan desain unik yang mencolok agar mudah terlihat sekaligus menarik perhatian publik dan pemerintah. Langkah ini bukan sekadar aksi kreatif, tetapi juga bentuk protes sekaligus upaya mendesak agar fasilitas yang hilang segera diperbaiki. Upaya tersebut terbukti efektif, karena tidak lama setelah viral di media sosial, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat dengan membangun lima titik zebra cross baru di lokasi tersebut sebagai respons atas aspirasi warga.

Sebagai langkah tindak lanjut atas polemik yang berkembang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga bergerak cepat dengan menghadirkan fasilitas penyeberangan baru di sepanjang Jalan Soepomo, Tebet. Pembangunan zebra cross ini dilakukan sebagai upaya konkret untuk mengembalikan fungsi ruang publik yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki, sekaligus menjawab kebutuhan mendesak yang sebelumnya sempat terabaikan.
Kehadiran fasilitas baru ini tidak hanya difokuskan pada aspek fisik semata, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan standar keselamatan lalu lintas di wilayah perkotaan yang padat. Di sisi lain, langkah ini juga mencerminkan respons positif terhadap aspirasi masyarakat yang telah menyuarakan keluhan mereka melalui berbagai cara, termasuk aksi kreatif yang sempat viral. Pemerintah berharap, dengan tersedianya zebra cross yang sesuai standar, masyarakat dapat lebih disiplin dalam berlalu lintas, sementara para pengendara diharapkan semakin sadar untuk memberikan prioritas kepada pejalan kaki, sehingga tercipta budaya berkendara yang lebih tertib, aman, dan saling menghargai di jalan raya.





![Cerita di Balik Syuting Petualangan Sherina 2! [NGOBROL BARENG] Cerita di Balik Syuting Petualangan Sherina 2! [NGOBROL BARENG]](https://iswaranetwork.com/wp-content/uploads/2023/10/Cerita-di-Balik-Syuting-Petualangan-Sherina-2-NGOBROL-BARENG-180x135.webp)











